Showing posts with label aku dan kamu. Show all posts
Showing posts with label aku dan kamu. Show all posts

Penghapus dan Pensil

pernah denger cerita tentang pensih ama penghapus beloom? wa udah pernah denger cerita itu tapi baru inget sekarang (tau sendiri lah, wa emang pelupa beraaat *tabok)

tapi kok wa jadi inget pelajaran sosio jaman kelas satu ya, hahaha habisnya sama sih cermin diriku bagaikan pensil, gitu kaya buknya, wa ulas sedikit deh tentang pelajaran sosia wa, jadi tuh guru minta muridnya satusatu ngejelasin cermin diriku sebuah pensil, dan apa hubungannya pengapus dan rautan. edaaaan ! tuh guru jan jooos sekali masalah kehidupan yang berlikuliku, wuuuh ulasannya kereeen book. jadi gini :

cermin diriku ialah sebuah pensil (wa radarada lupa nih, jadi kalo wa rada-banyak-salah, ya maklumin aje yeee, namanya juga khilaf *kicked*) -->hahahahaa nah gini, wa ini bagaikan pensil, wa menoreh segala hal dalam hidup wa, jadi wa misalkan kertas itu hidup wa. nah, apapun yang wa torehkan gaselamanya benar, karena manusia itu biangnya kesalahan, betuul? yeeaah.
nah, peran pengahapus itu apa? apalagi kalo bukan menghapus satu demi satu kesalahan kesalahan yang udah wa perbuat, jadi pengahapus itu guna? ya guna bangeeet lah, lalu tokoh penghapus itu diperankan siapa? bisa siapa saja, sahabat, orang tua, atau orang terkasih, bisa juga yang lain. orang orang-penting-itu yang bisa menyadarkan wa dan membantu wa dalam menyikapi berbagai permasalahan hidup, atau membantu wa meluruskan setiap kesalahan yang udah wa perbuat.
lalu peran rautan itu apa? rautan itu mempertajam pensil, tapi fungsi utamanya kalo pensil itu mendadak dangdut bujel, dirautin jadinya lancip lagi deeeh. hahahhaa *bego* nah, dalam hidup, hidup itu gamungkin bakalan seneng terus kan, karena hidup adalah roda melingkar, kadang dibawah dan kadang diatas, saat wa ngalamin seneng pasti ada saatnya wa juga ngalamin duka, saat wa ngalamin sukses wa juga bakalan dinanti yang namanya jatuh. saat wa down dan ngerasa hidup udah gaada apa apanya, disini fungsi rautan muncul, rautan bisa nyemangatin dan ngebuat wa mau bangkit lagi. bisa siapa saja rautan itu diperankan, asalkan memberi masukan yang positif dan membangun wa, bukan malah ngebuat pensil itu sendiri habis.
so penting sekali peran penghapus ama rautan itu bro, kalo punya pensil, jangan lupa beli penghapus ama rautan ! hahahaha *garing*
nah kan, pintar sekali guru sosio ku satu itu, bayangkan ! tiap malam nyekoki dirinya dengan berita berita dimtro dan acara acara politik yang wa sendiri gatau chanelnya apa. hahaha, tiap pagi sarapan koraaan, modiiiiar, jelas aja otak bening

oke wa balik lagi kemasalah awal: nah ceritanya gini (wa COPAS)

dunia ini sempit. Sangat sempit. Teramat sempit sampai terasa nyaris menghimpit tubuhku.

Aku memandangnya. Dia memandangku. Kukembangkan telapak tanganku. Dia juga. Kutempelkan telapak tangan kananku pada telapak tangan kirinya, tapi tak tersentuh. Kami dibatasi sebuah kaca. Aku dapat melihatnya dengan jelas, namun tidak lagi dapat menyentuhnya. Dia bukan milikku lagi. Saat ini dan selamanya.

***

Aku mencintai Artha. Aku sudah menyukainya sejak awal kami bertemu pada ujian pendafaran masuk kampus sekitar tujuh tahun yang lalu. Artha tidak terlalu tampan. Tapi juga tidak jelek. Dia memiliki sepasang bola mata hitam kecoklatan, sepasang alis mata yang tidak terlalu tebal, hidung yang tidak dapat dikatakan mancung, dan bibir tipis yang kemerahan. Wajahnya yang oval dibingkai dengan rahang yang kokoh, dengan lesung pipit di pipi kirinya jika dia tersenyum. Tubuhnya tinggi dengan pundak yang lebar.

Aku sangat, sangat, sangat terpesona padanya. Aku masih ingat dengan jelas ketika pada ujian pendaftaran masuk itu, setengah jam sebelum ujian berakhir aku baru sadar kalau jawaban yang kulingkari dengan pensil 2B pada kertas jawabanku itu terlompat satu. Ada lima puluh soal yang diujikan. Dan ketika aku sampai pada nomor terakhir di kertas soal, aku baru menyadari kalau pada kertas jawabanku, aku baru sampai pada nomor empat puluh sembilan. Setelah kuperiksa ulang, rupanya aku melewatkan soal nomor sembilan, dan menuliskan jawaban nomor sepuluh di soal menjadi nomor sembilan di kertas jawabanku, dan seterusnya. 

Kurogoh-rogoh isi tasku mencari sebuah penghapus dan tidak menemukan benda yang kucari di sana. Itu membuatku panik. Aku duduk dengan gelisah sementara dahiku mulai berkeringat dingin. Aku tidak mau kalau aku sampai tidak lulus ujian masuk karena hal konyol seperti ini. Kulirik kanan kiriku dengan bingung. Aku sudah hampir menangis. Kemudian tiba-tiba dari belakang, seseorang menyentuh pundakku.

“Mau pinjam?” tanyanya. Kulirik mata pengawas yang tertuju pada kami. Lalu secepat kilat aku mengangguk seadanya dan mengambil penghapus itu dari tangannya. Itulah pertama kalinya aku memperhatikannya. Oh, bukan memperhatikan. Tepatnya, aku jatuh cinta padanya.

Tuhan sungguh baik padaku. Pertemuan kami tidak berakhir sampai di sana. Dia membiarkan kami satu kelas, satu organisasi, dan yang terpenting, memiliki satu perasaan yang sama. Empat bulan setelah awal pertemuan kami, Artha memintaku menjadi pacarnya dan membuatku hampir pingsan karena terlalu bahagia.

Artha pacar pertamaku. Dan aku berharap dia juga akan menjadi yang terakhir dalam hidupku. Sampai saat itu tiba. Saat hubunganku dengan Artha yang nyaris empat tahun berakhir begitu saja ketika dia memutuskan untuk pindah ke Jepang dan melanjutkan studinya di sana. Tidak pernah ada lagi kabar yang kudengar dari Artha semenjak kepergiannya. Dia seolah hilang ditelan bumi. Meninggalkanku sendirian digulung kesedihan.

Dua tahun kemudian aku bertemu Arga di perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara tempatku melamar pekerjaan. Pertama kali melihatnya, aku seperti menemukan getaran yang telah lama hilang di hatiku. Matanya sama jernih dengan mata Artha. Senyumnya sama lembut dengan senyum Artha. Cintanya sama tulus dengan cinta Artha yang dulu pernah singgah dalam hidupku. Kubiarkan Arga mencuri tempat Artha dan menambal lubang yang menganga lebar di sana. Juga membiarkan Arga melingkarkan cincin di jari manis kananku malam ini.

Aku menikah dengan Arga.

Yang tidak pernah kusangka adalah aku akan melihat Artha lagi. Setidaknya aku tidak pernah mengira akan bertemu lagi dengan Artha pada malam ini. Malam pernikahanku. Malam di mana aku dengan sah menjadi milik orang lain.

Dunia ini sempit. Sangat sempit. Teramat sempit sampai terasa nyaris menghimpit tubuhku.

Ketika pandangan mata kami bertabrakan, aku dapat membaca kesakitan maha dahsyat yang menggemuruh di kedua bola matanya. Kesakitan yang aku tahu dia tidak berpura-pura. Sepasang mata Artha yang masih sama dengan tiga tahun yang lalu sebelum dia meninggalkanku. Aku hampir menjerit. Hampir berteriak dan memeluk laki-laki yang kini sedang bergerak mendekat dan menyalamiku.

“Selamat ya.” katanya lirih. Suara yang setengah mati kuimpikan selama tiga tahun ini. 

Tapi kekagetanku tidak berhenti sampai di sana. Kata-kata berikutnya yang meluncur dari bibir Artha, membuat ulu hatiku begitu nyeri seakan dihantam dengan palu godam.

“Kamu akan menjadi kakak iparku yang paling cantik mulai malam ini.” ucapnya dengan menguntai seulas senyum pahit. Mata Artha yang biasa selalu tersenyum lembut, malam ini terlihat basah berkaca-kaca. 

Kutatap punggung Artha yang bergerak menjauh, kemudian dengan segera kualihkan pandanganku dan menatap Arga dengan pandangan tak percaya.

“Kamu punya adik?” tanyaku menahan sakit yang membuat mataku mulai terasa panas tergenang air mata. “Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku?”

“Artha maksudmu?” Arga balas bertanya padaku dengan lembut. “Dia adik satu ayah lain ibu denganku. Aku hampir tidak pernah bertemu dengannya. Lagipula dia baru saja pulang dari Jepang malam ini. Ayah yang memintanya untuk datang ke pestaku dan menjemputnya dari bandara langsung kemari. Untung Ayah tidak terlambat datang ke pesta kita.”

Arga tertawa kecil. Tapi aku sudah tidak bisa ikut tertawa lagi. Jawaban Arga membuatku terhenyak. Kugigit bibirku kuat-kuat. Aku sungguh ingin berteriak. Aku ingin memanggil Artha untuk kembali ke hadapanku. Tapi lidahku terasa kelu. Suaraku tercekat entah di mana. Dan pada saat aku menemukan kembali suaraku, Arga telah menggenggam tangan kananku dan meremasnya dengan penuh kehangatan. Aku merasa tubuhku melemas. Aku tidak bisa mengkhianati Arga. Aku sendiri yang telah memutuskan untuk memilih Arga. Aku harus belajar mencintainya sebagaimana dia mencintaiku.

Kuurungkan niatku dan membuang pandanganku dari Arga, sekali lagi melihat Artha yang kini berdiri beberapa belas meter di hadapanku sebelum akhirnya dia berpaling dan berlalu pergi dari pestaku. 

Sekarang aku tahu pasti mengapa mata dan senyum Arga sama persis dengan yang dimiliki Artha....

***

Aku memutuskan untuk mengakui semuanya pada Arga. Kuceritakan semuanya pada Arga mulai dari awal perkenalanku dengan Artha, betapa aku mencintainya, dan betapa aku sangat bahagia menjalin hubungan dengannya selama itu, serta merasa masih mencintainya sampai detik ini sekalipun aku telah menikah. Aku sempat mengira Arga akan mengamuk dan menamparku keras-keras di kamar pengantin kami malam itu. Tapi dia tidak melakukannya. Dia malah memelukku erat-erat dan berbisik dengan lembut di telingaku. Bisikan yang membuat tengkukku berdiri dan menangis begitu terharu.

“Artha akan kembali ke Jepang besok pagi. Temui dia yang terakhir kalinya, Reyn. Supaya kamu dapat melepaskan masa lalumu dan melangkah untuk masa depanmu.”

Arga merenggangkan pelukannya. Kemudian dengan gerakan yang sangat hati-hati, dia mengangkat daguku dan menatap mataku dalam-dalam. Disekanya air mataku dengan sangat perlahan, seakan-akan jika dia mencoba menyentuhku lebih kuat sedikit saja, aku akan retak seperti porselen yang terbanting ke lantai.

“Kamu tahu kenapa kaca spion mobil lebih kecil dari kaca depannya?” tanyanya hangat. “Karena Tuhan menginginkan manusia lebih sedikit melihat ke belakang dan lebih banyak melihat ke depan, Reyn....”

Untaian kalimat Arga yang begitu tulus membuatku terisak-isak seperti orang gila. Separuh karena merasa bersalah padanya, separuh lagi merasa bersalah pada Artha. Tapi di saat seperti ini pun Arga tidak menghakimiku. Dia hanya membiarkanku menangis dalam pelukannya hingga malam kian larut dan aku tertidur di dadanya yang bidang.

***

Kulihat Artha tersentak ketika melihat kehadiranku dan Arga di bandara pagi itu, namun dengan segera dia mencoba menguasai dirinya. Arga mengucapkan salam perpisahan singkat pada Artha dan pamit untuk ke kamar kecil sebentar. Aku tahu Arga sengaja melakukannya dan memberikan waktu padaku untuk berdua saja dengan Artha.

“Sekali lagi, selamat ya.” ujar Artha terbata-bata. “Aku yakin Arga orang yang sangat baik. Dia pasti akan menjagamu lebih daripada dia menjaga dirinya sendiri.”

“Kenapa tiga tahun yang lalu kamu memutuskan pergi dan tidak pernah memberiku kabar sama sekali?” tanyaku tanpa menggubris ucapannya. 

“Karena aku merasa tidak pantas untukmu.” tukas Artha setelah diam sesaat dan kembali membuatku merasa ada garam yang tertabur di lukaku yang belum sembuh. “Kamu tahu pasti aku bukan terlahir dari keluarga berada. Dan ketika aku tahu kalau ternyata ibuku hanya wanita yang dimadu, aku merasa tertampar. Aku merasa hidup mendorongku hingga terjatuh ke jurang yang paling dalam. Kemudian aku memutuskan pergi ke Jepang berkat beasiswa yang kudapatkan dengan susah payah, berusaha memperbaiki hidup dan menata hatiku di sana, sehingga ketika aku kembali nanti, aku bisa memberikan kehidupan yang jauh lebih layak pada ibu... dan tadinya- padamu juga.”

Kukerjapkan mataku yang terasa perih. Sebisa mungkin kutahan air mata yang mendesak keluar dari kedua mataku yang sembab.

“Tapi kurasa aku terlambat.” Bibir tipis Artha tersungging getir. “Kamu sudah menemukan orang lain yang seribu bahkan sejuta kali lebih baik dariku. Dia tidak akan meninggalkanmu seperti yang pernah kulakukan. Dia akan menjagamu seumur hidupmu.”

Aku mencari-cari kebohongan dan kemarahan dalam setiap ucapan Artha dan tidak menemukannya. Dia tulus mengatakannya. Dia ikhlas membiarkanku mengecap kebahagiaan dengan orang lain. Ketulusan yang membuatku merasa kerdil dan egois telah menyalahkannya selama ini.

“Dulu, aku pernah mencintaimu. Sekarang pun sama.” lanjut Artha sederhana. “Tapi dengan cinta yang berbeda. Aku akan menghormatimu sebagai kakak iparku dan juga akan mengunjungimu setiap kali ketika aku kembali ke Jakarta untuk menemui ibu.”

Usai berucap demikian, Artha menarik tangan kiriku dan meletakkan sesuatu di tanganku.

“Jangan buka tanganmu sebelum pesawatku tinggal landas.” ucapnya pelan. 

Kugenggam benda pemberian Artha erat-erat sembari mengikuti langkahnya yang akhirnya memisahkan kami dalam ruangan berbeda karena pesawat yang ditumpanginya akan segera berangkat. Aku memandangnya. Dia memandangku. Kukembangkan telapak tanganku. Dia juga. Kutempelkan telapak tangan kananku pada telapak tangan kirinya, tapi tak tersentuh. Kami dibatasi sebuah kaca. Aku dapat melihatnya dengan jelas, namun tidak lagi dapat menyentuhnya. Dia bukan milikku lagi. Saat ini dan selamanya.

***

Awan putih laksana gulali indah yang menghias langit pagi itu. Seberkas cahaya dan sebuah pesawat yang tampak seperti miniatur, menggores permukaan langit sejauh mataku memandang. 

Dengan tangan yang gemetar hebat, kubuka tangan kiriku yang terkepal memegang pemberian Artha tadi. Mataku terpaku pada sebuah benda kecil di telapak tangan kiriku. Mungkin bukan benda yang istimewa bagi orang lain. Tapi sangat berarti dalam hidupku.

Sebuah penghapus.

Air mataku tumpah.

Berlinang-linang.

***

“Kamu tahu? Kita adalah pensil dan penghapus.” kata Artha seraya membelai rambutku malam itu. Malam pertama ketika dia mengungkapkan perasaannya padaku dan mengajakku makan malam berdua.

“Pensil dan penghapus?” Kutatap wajahnya dan menyatukan alisku dengan pandangan tak mengerti.

“Kamu pensilnya dan aku penghapusnya.” Artha tersenyum begitu lembut dan hampir membuatku meleleh bahagia. “Setiap kali kamu membuat kesalahan, aku yang akan membantumu untuk menghapus setiap kesalahan itu. Meskipun setiap kali aku melakukannya, tubuhku akan terasa sakit dan bagian tubuhku akan terus mengecil, aku bahagia melakukannya. Karena untuk alasan itulah aku diciptakan. Aku diciptakan untuk selalu menjagamu. Aku diciptakan untuk selalu menolongmu di setiap kesalahan yang kamu lakukan dalam hidupmu. Sampai mungkin akhirnya aku akan menghilang dan kamu akan menemukan yang baru sebagai penggantiku….”

***

Pikiranku masih terseret pada kenangan masa lalu kalau saja bukan tepukan pelan di kedua bahuku menarikku kembali ke alam nyata. Aku menoleh sekejab dan mendapati Arga menatapku dengan penuh kasih sayang. 

Aku menarik nafas dalam-dalam sampai paru-paruku terasa penuh. Kubalas tatapan Arga dengan penuh rasa terima kasih yang tak mampu kuwujudkan dalam kata-kata.

Arga menggamit lenganku, kemudian membiarkanku mengikuti langkahnya.

Jalanku masih panjang. Kalau dulu aku pernah melakukan kesalahan, kupastikan aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Aku akan terus melangkah. Dengan Arga di sisiku.

“Sekarang, kamu adalah pensil. Dan aku penghapusnya….” gumamku tulus. Arga menoleh dan mengernyitkan keningnya. “Setiap kali kamu membuat kesalahan, aku yang akan membantumu untuk menghapus setiap kesalahan itu. Meskipun setiap kali aku melakukannya, tubuhku akan terasa sakit dan bagian tubuhku akan terus mengecil, aku bahagia melakukannya. Karena untuk alasan itulah aku diciptakan. Aku diciptakan untuk selalu menjagamu. Aku diciptakan untuk selalu menolongmu di setiap kesalahan yang kamu lakukan dalam hidupmu.”

Kuulang setiap kata-kata yang dulu pernah Artha ucapkan padaku. Tapi aku tidak mengutip kalimat terakhirnya. Aku tidak ingin Arga mencari penggantiku. Karena mulai saat ini, aku tidak akan menghilang darinya….



aku heran sekali

aku bertemu denganmu malam itu...
aku lupa apa yang kamu kenakan
tapi aku ingat jelas kenangannya
secara mengejutkan kamu muncul didepan aku
ya, aku heran sekali

malam itu kamu kamu nyakitin aku
tapi kamu juga nyenengin aku
aku heran sekali...

kamu bilang secara langsun didepan umum
kamu masih sayang sekali padanya
padahal dia sudah termiliki
tiga jam sebelumnya cinta, kita tau itu
aku heran sekali...

lalu ada seseorang yang memelukku dari belakang
aku bisa cium aroma tubuhnya
aku bisa rasa setiap sentuhannya
aku bisa dengar bisikkannya dengan jelas
tapi aku tidak bisa lihat, dia peluk aku erat
aku heran sekali...

aku gamau berharap kalo itu kamu
maaf, aku takut kalo aku salah
tapi setidaknya harapan itu hidup dan ada
ya, aku heran sekali...

aku ingat jelas, kamu sebut namaku keras keras
maksut kamu biar orang orang mendengarnya kan?
kamu bilang maaf sama aku
aku heran sekali

kamu bilang maaf karena memelukku diam diam
kamu tau itu salah seakan mencuri sesuatu dariku
tiba tiba
tapi aku anggap itu tidak masalah
sama sekali tidak, sungguh
sebab, aku suka kamu peluk
walau aku rasa sesaat
aku heran sekali...

aku senang, baiklah sedikit senang
hampir tidak !
aku tau itu bukan kamu
maksutku bukan kamu yang asli
kamu temui aku didalam mimpi
untuk kali ini aku tidak heran !

Tuhan, Kamu sungguh yang paling hebat, aku ingin melupakannya tapi Kamu selalu mengingatkan berbagai kenangan kamuflase darinya, aku heran sekali.... begini saja, tunjukkan kehebatanMu lainnya,buat dia benci padaku, agar aku punya alasan buat melupakannya, maksutku agar semakin mudah untukku

Saat aku tersenyum masam untuk mencintai secara tulus

Apa yang harus dilakukan agar cintai seseorang?
Tidak ada!
Apa yang harus dilakukan agar sayangi seseorang?
Tidak ada!
Apa yang harus dilakukan agar membalas perasaan seseorang?
Tidak ada!
Ya tidak ada!
Cinta itu anugerah, ada dan nyata!
gabisa dipanggil, datang sesuka hatinya
Baiklah, memang benar dan aku tersenyum masam

Cinta itu tulus kan?
Cinta itu datang bukan karena untuk membalas budi
Cinta itu datang bukan karena untuk status..
Aku tau kali ini aku benar
Maka aku tersenyum masam

"Jika kamu harus memilih antara dicintai dan mencintai mana yang akan kamu pilih?"

Aku pernah dan sering mendengar pertanyaan konyol itu
Ya, sering sekali, semua sulit untuk dilakukan
Banyak yang bilang memilih untuk dicintai
Ya, aku hanya tersenyum masam

Tidak ada alasan yang meyakinkan
Mereka hanya ingin dicintai karena tidak tersakiti
Mereka egois! Mereka memakai topeng
Mereka pengecut! Mereka takut merasakan sakit
Berlindung dengan alasan tidak ingin menyakiti seseorang yang mencintainya
Lagi lagi aku tersenyum masam

Jika aku memilih kali ini
Aku memiliih untuk mencintai
Karena aku merasakan bagaimana cinta itu datang dan diam dalam hatiku
Untuk waktu yang lama
Lama hingga tidak dapat membusuk, sebab aku yakin cinta itu abadi!!
Aku tersenyum masam mendapati jawabanku

Ya, cinta itu indah
Walaupun pada akhirnya tersakiti
Rasanya lebih menyenangkan jika mencintai
Sakit memang ada, tapi bukankah sepadan dengan rasa cinta itu sendiri, ha?
Berkorban..
Aku tersenyum masam lagi


Mencintai apa dicintai?

Mencintai jawabku!

Lalu bagaimana dengan yang mencintaimu?

Aku tersenyum masam

Bagaimana dengannya?

Mungkin aku bisa mencintainya, tapi cintaku padanya bukan cinta tulus, jawabku

Tulus?

Ya, mungkin rasa cintaku padanya adalah balas budi, karena dia telah mencintaiku,
Dan cinta yang tidak tulus, emm maksutku cinta yang ada karena balas budi itu tidak indah untuk dirasakan.. Cinta seperti itu tidak baik buat dipelihara, cinta seperti itu tidak abadi, apa enaknya memiliki cinta seperti itu, bukankah akan lebih menyakitinya jika kita membalas cintanya dengan tidak ketulusan?
Mungkin, -karena hidup ini serba kemungkinan- aku akan mencintainya dengan tulus suatu saat nanti, tulus datang dari hati, tulus bukan karena membalas persaannya, tulus untuk mencintainya secara utuh, ya aku tidak menutup kemungkinan! Aku menjawab dengan senyum masam



Suatu saat nanti,
Ya,suatu saat nanti aku akan dapat mencintaimu tulus secara utuh
Suatu saat nanti, bukan saat ini.
Karena saat ini aku masih mencintainya dengan tulus
Memang benar aku tidak mendapatkan apapun darinya
Aku mendapatkannya darimu
Tapi cinta tidak butuh itu, apapun! Tidak,
sebab..
Aku mencintainya dengan tulus..

Tunggulah, hingga suatu saat nanti
Dimana aku akan mencintaimu dengan tulus dan utuh..
Selalu..

mencintai atau dicintai part 1

jika kamu memilih untuk dicintai atau mencintai manakah yang kamu pilih?
aku bingung! aku mulai panik
ya, aku sering mendapati pertanyaan konyol itu terlontar
ya, dan aku hanya mencibirkan bibir karena aku malas
tapi sekarang pertanyaan itu membuatku sinting
bahkan menungguku untuk terjun kedalam jurang


aku berfikir keras
hingga jantung berdegub kencang
mata sulit untuk terpejam
aku mulai marancau
berbicara apada Tuhan
ya, siapa lagi kalau bukan Dia
karena Dia yang paling hebat

lalu aku menjawab...
"ya, aku akan memilih untuk mencintai"

aku benci kamu

aku membencimu!
kamu yang selalu mengombang ambingkan aku..
hingga keadaan ini tak menentu.

aku bukan perahu para pecundang,
aku juga bukan sekedar kail buatmu mencari umpan

berhentilah melakukan ini semua!
kumohon..
sebab aku tak sanggup.

why must been you ?

Aku gatau musti gimana
Kamu seharusnya bilang, aku musti gimana
Karena ini semua tentang kamu
Kamu engga pernah sadar, atau kamu pura pura engga tau
membiarkanku terluka, tersakiti dengan ketidak pastian ini
Kecewa
Hanya satu kata, tidak kurang dan tidak lebih

Aku gamungkin menyalahkan kamu

Pada situasi ini aku yang memulainya
Sebab, aku sendiri yang menusukan pedang pada jantungku
Sebab, aku sendiri yang menghentikan aliran darahku
Sebab, aku sendiri yang mencabik cabik hatiku
Sebab, aku sendiri yang telah membakar relung jantungku
Sebab, aku sendiri yang menari nari diatas abu kesenanganku
Sebab, aku sendiri yang secara sadar telah mencintaimu,
Mencintaimu secara utuh.. selalu..



Mengapa Tuhan?
Aku tidak pernah lelah untuk selalu mencintainya, secara utuh..



i am fool enough

aku senang disaat kamu bersikap manis sama aku..

tapi aku jadi sedih disaat secara tiba tiba kamu kasih aku luka yang amat pedih..
dan aku selalu bertindak bodoh menganggap ini bukan masalah !!
ini masalah! Masalah..
bahkan tolol ketika aku masih pelihara rasa buat kamu -_____-

have u ever seen?

pernahkah kau mencoba untuk sekali saja melihat sekillas kearahku? sungguh palingkan mukamu dan cobalah untuk memahami apa yang tersirat! aku bertanya untuk terakhir kalinya dan apalagi yang harus kubayar untuk semua ini!

try this!

bayangkan..
jika saja kamu pada situasi seperti ini
kamu ada pada posisiku
terhimpit dan bahkan tak sanggup berfikir
tertekan dari segala penjuru arah
buta untuk melihat jalan keluar berada
bayangkan..
bayangkan bagaimana rasanya..

ooops 
aku tidak memaksamu,sungguh..
aku hanya ingin kamu tau
apa kamu sanggup buat jadi aku?
sakit..
terluka..

aku tidak pernah memintamu untuk mengasihaniku
aku sudah cukup dikasihani
buang saja kepalsuanmu!
aku engga butuh

sungguh, bersikaplahh! 

wanna waiting u standing in front of me and say the letters eight :)

Aku bingung sekali ******
Apa benar aku telah menyayangimu
Tapi mengapa aku selalu kesal dangan semua tingkah lakumu
Aku kesal sekali hingga rasanya aku ingin memukulmu

Aku selalu memperhatikanmu lebih dari aku memperhatikan orang lain
Aku peduli padamu melebihi rasa peduliku pada orang lain
Bukan karena aku kasihan dengan keadaanmu
Tapi karena aku punya rasa yang lebih untuk kamu
Ini tulus kalau kau ingin tau
Ini tanpa syarat kalau kau khawatir untuk membayarnya

Benar, kadang kau ini mengesalkan
Sampai aku marah dan engga mau ngeliat mukamu lagi
kamu seakan tak pernah peduli padaku
Dan aku membencinya !!
kamu selalu plin plan
sulit untuk memilih pilihan yang bahkan aku tidak memberikannya
Aku benci kamu, aku benci!!

Kamu selalu mengombang ambingkan aku
Keadaan ini tak tentu arah
Aku bukan perahu pecundang
Aku bukan kail untuk kamu mencari umpan


Berhentilah melakukan ini semua!!
Kumohon..
Aku benci diperlakukan seperti ini


Berapa penderitaan lagi yang musti aku bayar
Agar aku dapat melihatmu

Berdiri dihadapku sebagai lelaki sejati
Dan memintaku untuk mencintaimu..
Secara.. utuh..

lmnt-open your eyes to love

open your eyes to love

You've been searching the world to find true love
Looking in all the wrong places
When all of the time you've been blind to love
As plain as the nose on your faces

It's here, it's now.Open your eyes and see it.
Right here, right now. Open your eyes to love.

You've been down on yourself thinking somethings are wrong
Wondering why love has never found you
Don't you know it's been right here all along
If only you'd look around you

It's here, it's now,Open your eyes and see it..
Right here,right now, Open your eyes to love...

Love has been right by your side oh so,close that you could'nt see.
If love could speak it would shout to the sky,
"I've always been here,I always will be."

I'm here,i'm now.Open your eyes and see.
Right here,right now.Open your eyes to love.

Open your eyes.....
Open your mind to love
Open your heart to love.


itu lyrics beneran aku suka, lagunya juga enak banget didengernya..
kadang, saat aku benar benar masuk kedalamnya, aku bisa ngerasain dimana ketulusan itu ada. bahkan, aku tau rasanya tak pernah dianggap *asli gila, itukan ganyambung -,-*
whateva!, i like it :)

am i dreamin'? let someone pinch me!

Everytime I see you
my mind runs wild..
My eyes wanna see through
what I don't know now..


sebut aku gila,sebut aku sudah kelewat batas..
tapi inilah kenyataannya
aku gabakalan bisa mengalihkan pandanganku,
kalau kamu terus berada tepat dihadapku..


Good-bye to the heartache
I've fell through so long..
Now I feel the earth shake
'cause I'm where I belong..


aku bahagia, saat aku sadar tidak ada lagi rasa sakit
meraung raung dalam dadaku..
tapi kadang, aku rindu untuk merasakannya..


Am I dreaming?
Someone pinch me.
You're so real..


dan ternyata benar, baru saja aku terbangun dari mimpi indahku bersamamu,
kamupun lenyap bersamaan datangnya mentari :(

sumthin' i feel like nagging without any reason

kamu tau??
aku suka kesal padamu
aku suka mengomel padamu
aku suka memarahimu
aku suka bertikai denganmu
aku suka beradu pendapat denganmu
aku suka meledekkmu,


itu pula karena salahmu!
iya, itu salahmu.
sebut aku egois, atau childhis sekalipun
faktanya, memang kau menjengkelkan
tapi aku menyukaimu

tapi aku tidak suka...
saat orang orang bilang..
aku terlihat seperti musuhmu
aku terlihat tidak peduli padamu
aku terlihat acuh padamu
hingga kamu mulai meragukan aku


ya, aku tau mereka salah
mereka salah, karena telah berfikir spontan
fikiran mereka sangat pendek
aku yakin itu, iya kan??

aku yakin karena Kamu spesial

Kadang aku berfikir
Mengapa Tuhan suka menyakitiku
Apa memang aku ini disayang?
Katanya semakin Tuhan menyayangi hambanya
Tuhan akan memberikan cobaan lebih padanya

Seharusnya aku berterimakasih
karena Tuhan menyayangiku


tapi..
disaat yang sama, Tuhan menyakitiku
bahkan Tuhan menyakitiku dengan menggunakanmu

lalu, bisa apa aku menghadapinya????


setiap aku memikirkan luka ini
aku merasakan sakit yang amat luar biasa
sungguh, hingga aku ingin berteriak
dan berharap ada seseorang yang akan menolongku

lalu..
aku sadar, dengan apa orang akan menolongku
aku sendiri saja tidak tau bagian mana lukanya
aku yakin luka itu pasti dalam sekali
sampai sampai aku engga bisa ngeliat


aku suka kalau aku disayang
apalagi Tuhan yang menyayangiku
aku suka kalau aku tersakiti Tuhan
kerana Tuhan menyayangiku
tapi aku tidak suka jika ..
Tuhan menyakitiku dengan menggunakanmu


karena aku akan LEBIH menderita..


kumohon, tetaplah bersikap manis padaku
agar aku bisa bersahabat dengan keduanya..

tentunya saat kamu tau

Kamu semustinya mengerti akan satu hal
Satu hal yang bahkan gabisa kamu kira

Tapi yang kamu lakuin ini salah

Kamu ngebuat aku terlalu bergantung


Ini salahmu kan??

Ya.. ini memang seharusnya salahmu..

Mengapa aku selalu memikirkanmu
Mengapa aku selalu membutuhkanmu
Mengapa aku selalu melihatmu


Salahmu!!
Salahmu karena kamu begitu sempurna

Cara kamu berjalan
Cara kamu berbicara
Cara kamu tersenyum
Cara kamu untuk melihatku


Salahmu!!

Salahmu karena kamu begitu spesial
Menertawakan berbagai leluconmu
Berusaha membuatku ikut tertawa
Kadang kamu berusaha untuk bisa tertawa bersamaku
Tapi aku ini tukang merancau
Hingga semuanya kubuat berantakan


Baiklah.. baiklah..

Ini salahku!!

Kamu sabar sekali padaku
Dan aku semakin tidak tau diri


Salahku!!

Salahku.. disaat aku mulai tergila gila padamu
Salahku.. disaat aku mulai menyadari rasa ini tumbuh menjalar dalam kalbuku
Salahku.. disaat aku engga bisa lagi ngendaliinnya
Salahku.. mencintaimu secara utuh.. selalu..


lalu aku kembali berfikir,ini sebenarnya salahku atau salahmu atau bahkan waktu